Sejarah Klub PSV, Pusat Kekuatan Olahraga Belanda, Pesaing Kuat Ajax Amsterdam

Diantara banyaknya klub sepakbola di dunia, pasti selalu ada yang menjadi tim multi-olahraga, salah satunya adalah PSV.

Walaupun PSV lebih dikenal sebagai pusat kekuatan sepakbola, namun klub tersebut bersama dengan Ajax Amsterdam dan Feyenoord telah membentuk “Tiga Besar” sepakbola Belanda.

Selama sejarah mereka yang melimpah, PSV telah memenangkan lebih dari 20 gelar Liga, 9 Piala KNVB, satu Piala UEFA dan satu Piala Eropa.

Dilansir Kabar Banten dari laman Football History, pengaturan klub PSV secara luas dihormati di dunia sepakbola, dengan banyak bintang masa depan seperti Ruud van Nistelrooy dan Arjen Robben mendapatkan strip pertama mereka saat bermain untuk PSV.

Terlahir di Kota Eindhoven, klub PSV paling setia dengan markasnya yang dinamai Stadion Philips sejak 1913 silam.

Darisanalah muncul sejumlah pemain terkemuka PSV seperti Ralf Edstrom, Frank Arnesen, Jan Heintze, Ronald Koeman, Ruud Gullit, Gheorghe Popescu, Ronaldo, Romario, Jaap Stam, Ruud van Nistelrooy, Mark van Bommel, Phillip Cocu, Mateja Kezman, Arjen Robben, Dries Mertens, dan Luc Nilis.

Rekor klub PSV dalam individu, paling banyak dimainkan yakni Jan Heintze (365 penampilan) dan pencetak gol terbanyak ialah Luc Nilis (129 gol).

Nama lain PSV yang sering disematkan adalah PSV Eindhoven, mengingat Eindhoven selalu menjadi kota perusahaan yang klasik, tidak mengherankan jika PSV (singkatan untuk Philips Sport Vereniging) didirikan oleh sekelompok eksekutif Philips yang ingin menanamkan rasa persahabatan yang lebih besar di antara karyawan mereka.

Meskipun klub PSV aslinya dengan cepat menemui ajal karena pemogokan industri, itu menjadi batu loncatan bagi penggantinya, Philips Elftal.

Sementara klub didirikan pada 1913, nama itu tidak berubah menjadi PSV sampai 1916. Lebih mengejutkan lagi, baru di 1928 PSV akhirnya mengizinkan orang-orang di luar perusahaan Phillips untuk bermain bagi klub tersebut.

PSV meraih tiga gelar Liga Belanda (1929, 1935, 1951) dan satu Piala KNVB (1950) sebelum diperkenalkannya sepakbola profesional di Belanda pada 1954.

PSV Eindhoven adalah klub Belanda pertama yang ambil bagian di Piala Eropa, tetapi upaya awal ini gagal, bahkan relatif tidak berhasil.

Menyusul gelar Eredivisie di 1963, PSV mengontrak Willy Van Der Kuijlen yang berbakat, dengan cepat tumbuh menjadi salah satu striker top di negara ini dan bintang klub yang paling cemerlang.

Untuk waktu yang lama, kecakapan individu Van Der Kuijlen tidak diterjemahkan ke dalam kesuksesan klub PSV.

Baru pada 1972 dan penunjukan Kees Rijvers sebagai pelatih, PSV akhirnya menggunakan pemain terbaik mereka dengan tepat.

Dengan tim yang dibangun di sekitar keterampilan teknis mengesankan Van der Kuijlen, PSV mulai menantang Ajax dan Feyenoord untuk status klub terbaik di negeri ini.

Antara 1974 dan 1978, PSV Eindhoven memenangkan tiga gelar Eredivisie, dua Piala KNVB dan satu Piala UEFA.

Setelah delapan belas musim di PSV, Van der Kuijlen pensiun di 1981 sebagai pencetak gol terbanyak klub sepanjang masa, dengan 308 gol dalam 528 penampilan.

Dipimpin oleh Ruud Gullit dan Ronald Koeman, PSV terus menjadi kekuatan yang mendominasi sepanjang tahun 80-an.

Setelah mengklaim dua gelar Eredivisie tambahan pada 1985 dan 1987, PSV memenangkan Treble yang telah lama didambakan di 1988 dengan mengalahkan Benfica di final Piala Eropa.

Pada pergantian abad, ruang trofi PSV Eindhoven lebih kaya untuk empat gelar Liga dan tiga Piala KNVB.

Namun, PSV tidak pernah lebih dominan daripada di tahun 2000-an lantaran dengan dominasi Ajax dan Feyenoord tidak dapat membentuk tim yang dapat menantang gelar.

PSV memperhatikan dan mengklaim tujuh gelar Eredivisie yang luar biasa dan satu Piala KNVB antara tahun 2000 dan 2008.

Di 2010, PSV menjadi berita utama dengan mempermalukan rival lama mereka, Feyenoord dengan skor fantastis, 10-0.

Sejak itu, PSV telah memenangkan Piala KNVB kesembilan mereka pada 2012 dan gelar Eredivisie lainnya di 2015.

Dikutip dari laman: kabarbanten.com

Related posts