Liong Chiu Shia di Balik Susy Susanti dan Kilau Emas Olimpiade Pertama

Olimpiade Barcelona 1992 mengubah wajah Indonesia di panggung olahraga internasional. Indonesia untuk pertama kalinya meraih emas lewat Susy Susanti. Di balik kemegahan dan keharuan tersebut, Liong Chiu Shia berdiri di sana.

Liong Chiu Shia, pelatih tunggal putri masih ingat benar beban berat yang disandang Susy Susanti menuju Olimpiade. Sejak prestasi Susy melejit, banyak yang sudah berharap Susy memenangkan emas Olimpiade untuk Indonesia.

Setelah sekian lama, badminton akhirnya menjadi cabang olahraga yang resmi dipertandingkan di Olimpiade dan pertama kali dipanggungkan di Barcelona 1992. Indonesia pun berharap bisa meraih emas pertama setelah empat tahun sebelumnya bisa merebut medali pertama Olimpiade lewat tim Panahan Putri yang dijuluki Tiga Srikandi.

“Susy mesti jadi juara Olimpiade. Susy mesti dapat emas. Memang hal itu sudah ditekankan setelah Susy juara All England 1991.”

“Saya sendiri tidak merasa beban karena sejak awal saya melatih, saya selalu bertujuan ingin menghasilkan sesuatu yang bagus. Pemain yang saya latih harus bertekad jadi juara dunia, harus jadi nomor satu, harus jadi yang paling hebat,” kata Liong Chiu Shia pada CNNIndonesia.com.

Olimpiade Barcelona 1992 berjalan, Indonesia mengandalkan Susy Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani di nomor tunggal putri. Dua pemain ini sukses menciptakan All Indonesian Final di All England 1991.

Namun Sarwendah kalah dari Bang So Hyun di perempat final sehingga Indonesia hanya menyisakan Susy sebagai satu-satunya wakil Indonesia.

“Sayang Sarwendah kalah karena ada nasib dan keberuntungan di partai itu. Seharusnya Sarwendah punya peluang menang namun nasibnya berkata lain,” ucap Chiu Shia.

Susy sendiri akhinya bisa menapak ke babak final tanpa pernah kehilangan satu set pun. Di babak final, Susy bertemu Bang So Hyun.

“Susy itu setiap tampil di turnamen luar negeri selalu inhin satu kamar sama saya. Jelang pertandingan final semua biasa saja karena saya juga tidak memberi tekanan berlebihan kepada Susy,” ucap Chiu Shia.

Chiu Shia tidak mau memberikan tekanan soal menang atau soal keyakinan untuk menang. Bagi Chiu Shia, hal tersebut tidak disukai oleh Susy.

“Saya tidak pernah ngomong soal yakin. Saya bilang ke Susy untuk berusaha, dia sudah latihan, sudah capek. Jadi mati-matian saja di final, shuttlecock mengarah kemana dipukul. Saya tidak pernah membebankan dia untuk harus menang,” ujar Chiu Shia.

Laga final dimulai, Susy kalah di set pertama dengan skor 5-11. Di saat itu, pelatih hanya boleh memberi instruksi setiap set berakhir. Memberi instruksi di tengah pertandingan bisa berbuah peringatan.

“Saya bilang agar Susy lebih sabar dan coba bertahan. Saya beritahu hal-hal yang mesti diperlukan karena Susy sebenarnya tidak pernah kalah dari Bang So Hyun sebelumnya.”

“Saya di luar lapangan sebenarnya juga tegang. Tentu ada ketegangan namun saya berusaha tenang. Bila saya ikut tegang, pemain bakal tambah tegang,” ujar Chiu Shia.

Susy akhirnya bisa bangkit di dua set berikutnya. Susy menang 11-5, 11-3 di dua set berikutnya sekaligus memastikan medali emas Olimpiade pertama bagi Indonesia.

“Saya lega bahwa tugas saya sudah selesai. Seharusnya kalau menang itu biasa semestinya bagi seorang pelatih. Karena kita kerja untuk itu. Kita kerja untuk berhasil.”

Liong Chiu Shia lahir di Cirebon tahun 1949. Sejak kecil, ia senang bermain badminton di area gedung perkawinan tempat orang tuanya menjadi pengurus. Setiap malam, di gedung itu banyak aktivitas warga dilakukan mulai dari badminton, tenis meja, catur, hingga sekadar kumpul-kumpul.

“Marga saya Liong tetapi di bahasa mandarin jadi Liang,” ucap Chiu Shia.

Sebagai atlet badminton, Liong Chiu Shia ters meniti karier hingga bisa jadi wakil Jawa barat dan tampil di sejumlah kejuaraan level nasional.

Saat Tim dari China datang ke Indonesia, Chiu Shia mendapat ajakan untuk berlatih dan melanjutkan sekolah di China. Chiu Shia lalu mengiyakan ajakan tersebut dan ia pergi ke China.

“Saya bercita-cita mau jadi pemain hebat. Dari keluarga saya, bebas saja yang terpenting jalannya tetap lurus. Mungkin orang tua keberatan juga saya pergi karena saya anak perempuan satu-satunya. Mereka sedih tetapi tidak mau membatasi,” ucap Chiu Shia.

Chiu Shia lalu melanjutkan karier badminton di China. Saat itu China masih belum tergabung dengan International Badminton Federation (IBF) sehingga ia tidak berpartisipasi di kejuaraan-kejuaraan internasional di bawah naungan IBF.

Namun Chiu Shia bisa membuktikan kehebatannya lewat prestasi di ajang Asian Games saat China bisa bertarung bersama negara-negara kuat badminton lainnya.

“Pikiran saya saat itu ingin melanjutkan cita-cita jadi pemain hebat. Saya bisa juara di China dan juga ikut sejumlah pertandingan di berbagai negara.”

“Saya juara Asia 1976 dan bisa berprestasi di Asian Games,” kata Chiu Shia.

Setelah pensiun sebagai pemain, Chiu Shia mendapat tawaran dari Menteri Pemuda dan Olahraga Abdul Gafur untuk pulang ke Indonesia. Chiu Shia menyetujui tawaran itu karena selama di China ia juga tidak pernah bisa bertemu dengan keluarganya di Indonesia.

“Saya berbeda dengan Tong Sin Fu soal kembali ke Indonesia. Dia masuk lebih dulu untuk melatih di Pelita punya Pak [Aburizal] Bakrie. Kalau saya, saya datang karena diminta oleh Pak Abdul Gafur.”

“Mungkin sebelum itu beliau lebih dulu berbicara dengan adik saya yang juga mantan pemain nasional [Tjun Tjun],” tutur Chiu Shia.

Di pelatnas PBSI, Chiu Shia diserahi tugas untuk menggembleng Susy dan kawan-kawan yang saat itu masih belia sejak 1985.

“Saat saya mulai pegang, masih pada belum apa-apa, masih belum bagus. Setelah saya pegang beberapa lama, baru juara dunia junior, lalu 1989 baru mulai muncul tahun 1989 saat ikut membawa Indonesia juara Piala Sudirman,” ujar Chiu Shia mengenang.

Salah satu kehebatan Susy adalah footwork dan kakinya yang lincah di lapangan. Chiu Shia punya peran besar di balik hal itu namun ia menekankan bahwa footwork hanyalah salah satu dari banyak hal yang diperhatikan dalam dunia badminton.

“Melatih kaki itu penting, kalau tidak bisa mengejar shuttlecock bagaimana bisa menang. Bagi saya, main itu mesti menang dan saat latihan adalah cara melatih bagaimana bisa menang.”

“Badminton terus berkembang. Selain footwork, pukulan juga harus matang, akurasi bagus. Bahkan jari-jari saat memegang raket pun harus terkendali. Bila miring sedikit, pukulan yang dilakukan tidak tepat jatuh di garis tetapi out.”

Berhasil memunculkan deretan pebulutangkis tunggal putri berprestasi di era 90-an, Chiu Shia mengaku dirinya bukanlah pelatih yang galak. Chiu Shia menyebut dirinya adalah pelatih yang suka berbicara terbuka kepada pemain.

“Misal saya bilang begini,’PBSI ini bukan rumah kamu. Ini masa depan kamu. Latihan yang benar. Kalau gak benar, pulang saja. Kalau sudah gak mau latihan, pulang saja’. Saya ngomong blak-blakan tetapi mereka ngerti maksud saya saat ngomong itu,” ujar Chiu Shia.

Bertahun-tahun mendampingi dan membangun kekuatan Tim Indonesia, Liong Chiu Shia butuh proses panjang sampai akhirnya ia bisa mendapatkan status sebagai WNI. Ia sempat merasakan menggunakan paspor sekali jalan sebelum status WNI terbit bagi dirinya.

Kini di usia jelang 73 tahun, Liong Chiu Shia masih belum meninggalkan dunia badminton. Ia masih menjadi pelatih karena masih banyak yang ingin merasakan tangan dinginnya.

Liong Chiu Shia berharap pemain-pemain Indonesia tidak lupa untuk terus punya tekad dan cita-cita yang tinggi serta tidak terlena dengan kejayaan Indonesia di masa lalu.

“Orang hidup itu mesti ada cita-cita, bukan makan tidur saja Kalau tekadnya bulat, bisa sukses. Sebagai pemain, harus terus belajar. Bahkan dari pelatih yang tidak bagus pun, mungkin ada sesuatu yang bisa diambil dijadikan pelajaran.”

“Belajar, belajar, dan terus belajar, Jangan merasa paling hebat karena persaingan sekarang makin merata,” tutur Liong Chiu Shia berpesan.

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts