Guru SD Tewas Ditusuk Mantan Suami di Depan Gerbang Sekolah

Ati Rohaeni (50), guru Sekolah Dasar (SD) di Bandung, tewas dengan luka tusuk oleh seorang pria yang merupakan mantan suaminya. Pelaku sudah ditangkap oleh pihak kepolisian.

Kapolsek Coblong Kompol Nandang membenarkan peristiwa pembunuhan tersebut.

“Betul, pelaku sudah di kantor (polsek). Korban meninggal sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Sartika Asih,” kata Nandang, Senin (7/2).

Diketahui, korban pembunuhan tergeletak di depan gerbang sekolah SD 032 Tilil, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Petugas PMI Kota Bandung lantas mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Sartika Asih.

Pihak kepolisian belum dapat menjelaskan secara detail penyebab kematian guru tersebut. Hingga saat ini, polisi masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan terhadap pelaku.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SDN 032 Tilil Prihatna mengatakan, kasus pembunuhan ini bermula saat pelaku bernama Nano (50) mendatangi sekolah dengan membawa pisau dapur. Kemudian, pelaku mengejar korban dan terjadi penusukan. Pelaku menusuk korban sebanyak tiga kali.

“Kejadian sekitar Pukul 07.00 WIB pagi tadi, pas sekolah sudah masuk. Dilihat dari CCTV, pelaku mengejar korban dari gerbang, sampai bagian tubuhnya dipegang kemudian terjadilah penusukan,” kata Prihatna.

Setelah melakukan penusukan, pelaku sempat mendekati korban dan menutupi mantan istrinya dengan jaket yang digunakan pelaku.

“Korban langsung tersungkur dan meninggal dunia di tempat. Tapi, pelaku itu mendekat dulu ke korban seperti memastikan mati atau tidak. Lalu terakhir dia buka jaketnya dan ditutupkan ke wajah korban,” tutur Prihatna.

Sebelum peristiwa penusukan, gerbang sekolah dalam posisi sedang tertutup dan hanya ada penjaga sekolah. Beberapa guru dan petugas juga tidak bisa membantu karena diancam oleh pelaku.

“Begitu sudah menusuk, pelaku mengancam penjaga sekolah dan guru lainnya yang mendekat dan berkata, ‘tidak takut dan siap menyerahkan diri’ kepada pihak polisi,” tutur Prihatna.

Prihatna menduga kejadian pembunuhan ini terkait dengan persoalan keluarga. Sebelum adanya kejadian ini, pelaku sempat mendatangi sekolah.

Pelaku yang mendatangi sekolah, marah pada korban karena sakit hati tidak dilibatkan dalam diskusi pernikahan anaknya pada 12 Februari.

Kemudian, karena rasa ketakutan, korban menelepon Polsek Coblong. Kemudian keduanya terlibat diskusi untuk saling memaafkan.

“Karena merasa sakit hati dan merasa dari balita tidak merasa diurus oleh pelaku, tapi pelaku merasa itu anak kandungnya. Bahkan di depan saya berjanji kalau pada sampai hari H tidak melibatkan pelaku, tolong semua dihapus dokumen-dokumen di antaranya ijazah, KTP, KK, yang ada sangkut pautnya dengan pelaku,” tutur Prihatna.

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts